LONDON, SABTU - Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, awal tahun baru 2009 akan terlambat satu detik. Sejumlah ilmuwan yang selama ini peduli terhadap standardisasi waktu di seluruh dunia telah sepakat menambah satu detik di akhir tahun 2008.
Penambahan ini untuk memastikan dunia tetap tepat waktu. Rotasi Bumi sebagai standar 24 jam masih digunakan dalam penentuan waktu di jam. Padahal, rotasi Bumi dari waktu ke waktu mengalami keterlambatan. Pencairan es di kutub, aktivitas inti Bumi, gelombang laut, dan efek gravitasi Matahari dan Bulan membuat poros rotasi berubah-ubah dan mengalami perlambatan 2 milidetik setiap hari.
Sementara standar yang presisi kini digunakan berdasarkan perhitungan wakwa 1 detik setara dengan waktu yang dibutuhkan sebuah atom cesium untuk bergetar sebanyak 9.192.631.770 kali. Dengan standar tersebut, jam atom hanya terlambat satu detik dalam 200 juta tahun. Akibat perbedaan ini menyebabkan tampilan jam atom harus disesuaikan dengan jam berdasarkan rotasi Bumi.
Tambahan detik yang diatur lembaga standardisasi waktu dunia International Rotation and Reference Systems Service akan dilakukan secara resmi pada malam tahun baru di Greenwich, Inggris. Greenwich selama ini menjadi referensi jam di seluruh dunia dengan sebutan GMT (Greenwich Mean Time) atau Coordinated Universal Time (UTC).
Secara teknis, pada malam tahun baru akan ditambahkan hitungan 23.59.60 sebelum berubah menjadi 00.00.00 memasuki 1 Januari 2009. Sebanyak 200 jam atom yang tersebar di 50 laboratorium di seluruh dunia akan menyesuaikan dengan perubahan ini.
Detik tambahan yang sering disebut Leap Second ini bukan kali pertama dilakukan. Sejak standardisasi waktu dunia disepakati tahun 1972 telah dilakukan 24 kali.
Meski seolah tahun 2009 terlambat satu detik, sebenarnya justru maju beberapa milidetik. Sebab, saat ini jam atom terlambat 0,6 detik sehingga penambahan satu detik membuat waktu Bumi 0,4 detik lebih dulu. Maju atau mundur, perayaan tahun baru tetap saja yang paling ditunggu-tunggu.
Jika anda membaca article bagaimana mesin 4 langkah/ 4 tak bekerja, maka anda akan mengetahui valve atau klep yang membiarkan campuran bahan bakar dan udara masuk ke mesin dan mengeluarkannya lewat knalpot dari mesin. Sedangkan jenong/tonjolan camshaft yang mendorong klep untuk membuka saat rotasi cam dan per klep yang mengembalikan klep ke posisi menutup lubang klep. Ini adalah siklus penting dari mesin 4 langkah dan yang membuat dampak yang hebat pada performa mesin pada diberbagai rentang kecepatan.
Di article ini, anda akan mempelajari bagaimanakah camshaft dapat mempengaruhi performa mesin. Dan jenis-jenis system cam di mesin 4 langkah, ada single overhead cam (SOHC) dan ada double overhead cam (DOHC). Dan kita akan menjelaskan cara singkat dalam mensetting camshaft untuk membuat kerja mesin lebih efisien.
Mulai dari basicnya:
Basic camshaft
Kunci pentingnya semua jenis camshaft adalah jenong/benjolan klepnya. Ketika cam berputar, lubang klep membuka dan menutup pada sisi intake dan klep pembuangan dalam satu saat yang hampir bersamaan dengan gerakan dari piston. Jadi ada hubungan sebab akibat dari hubungan langsung antara bentuk permukaan cam dan cara mesin berkerja di rentang kecepatan yang berbeda.
Untuk memahami bagaimana pentingnya hal ini, coba bayangkan ketika kita menjalankan sebuah mesin dengan ekstrim sangat pelan – pada 10 sampai dengan –20 (RPM) dengan cara menselah kick starter atau dengan menekan saklar starter mesin elektrik – dan hal ini terasa bahwa ada gerakan turun naik piston sebelum akhirnya diujung knalpot terdengar raungan mesin di knalpot tanda ada siklus yang berjalan dan mesin hampir hidup. Akan sangat mustahil apabila mesin dapat bergerak dengan rentang 100 s/d 200 RPM, karena ini sangatlah pelan, tapi coba bayangkan saja kira-kira, pada kecepatan rendah ini, siklusnya ketika piston menuju arah turun saat langkah intake (disebut juga TDC top dead center) klep intake/ klep masuk akan terbuka dan klep intake tadi akan menutup ketika piston dari dasar naik keatas.
Klep buang/klep keluar akan membuka ketika gerakan piston naik ke permukaan (disebut bottom dead center/BDC) pada saat akhir dari langkah pembakaran, dan akan menutup lagi ketika piston menyelesaikan langkah pengeluaran.
Tetapi apa yang terjadi ketika anda menambah tinggi RPM ?
Ketika anda menambah RPM dari 100 ke 200 RPM maka konfigurasi dari cam tidak bekerja dengan baik, dan mesin terdengar tidak stabil dan akan mati. Jika mesin digerakkan pada RPM 4000, klep akan membuka dan menutuo 2000 kali setiap menit atau 33 kali setiap detik. Pada kecepatan ini, piston bergerak sangat cepat, yang menyebabkan campuran bahan bakar dan udara bercampur dengan baik dan masuk kedalam ruang pembakaran dengan cepat dengan baik.
Ketika klep masuk/intake terbuka dan piston mulai melakukan langkah masuk, bahan bakar dan udara masuk bercampur di jalan masuk ke ruang pembakaran pada sisi intake. Pada saat piston mencapai bawah dalam gerakannya pada langkah intake, campuran tadi bergerak dalam kecepatan tinggi. Jika kita segera menutup klep masuk, semua campuran akan berhenti dan tidak jadi masuk ke ruang pembakaran. Dengan membiarkan klep masuk terbuka lebih lama, maka momentum dari masuknya campuran senyawa bahan bakar dan udara tadi akan terus masuk ke dalam ruang bakar, sehingga apa yang akan terbakar lebih banyak dari seharusnya yang dapat mengakibatkan ledakan yang lebih besar. Tentunya ini yang dicari oleh para tuner untuk menaikkan power mesin sehingga menghasilkan tenaga yang lebih besar tentunya. Kita juga ingin klep masuk tadi membuka lebih lama pada saat kecepatan tinggi, saat angkatan tinggi atau lamanya klep terbuka ini dinamakan lift, lift ini tergantung dari bentuk jenong dari klep itu tadi.
Ada 2 Camshaft untuk mesin motor standart harian adalah jenis profile camshaft standar (standart camshaft)t, dan ada cam untuk performa mesin yang lebih (performance camshaft. Pada jenis cam standart saat mesin dijalankan pada kecepatan idle/ kecepatan stasioner maka mesin akan berjalan dengan sempurna sehingga bunyinyapun halus, tetapi lain jika mesin menggunakan jenis cam performance ini, biasanya mesin motor akan terdengar sangat kasar pada kecepatan idle/ stasioner. Kenapa pada cam performace mesin terdengar sangat kasar, seolah terdengar irama yang tidak serasi diiringgi ledakan-ledakan kecil ? hal ini terjadi karena lobe atau benjolan bentuk cam sudah lebih besar dan sedikit merata pada benjolan depan dan belakang cam, yang menyebabkan tekanan ke klep menjadi di satu sisi lebih lama dan disisi lain lebih cepat menutup klep intake dan klep buang sehingga menyebabkan ada saat dimana kedua klep intake dan klep buang tadi sama-sama pada posisi membuka sehingga ada dorongan pembakaran balik ke arah karburator pada mesin karburator dan ke arah injector pada mesin injection. Performa cam inilah yang dianut pada mesin-mesin motor balap baik di arena drag bike atau road race.
Tenaga yang dihasilkan dari klep yang terbuka dan menutup dengan sangat presisi pada suatu mesin satu silinder akan menghasilkan tenaga yang sangat maksimal selama tidak membentur part/ bagian dari mesin yang lain, dalam hal kerja sama di ruang mesin pembakaran 4 langkah (bagian yang dapat terbentuk yakni pistonnya).
Dengan adanya silinder lain yang berkerja juga pada mesin akan lebih lagi menambah tenaga seperti contohnya di mesin Kawasaki Ninja 250R, atau mesin Honda CB 200 lama. Pabrikan tentunya memberikan fariable yang berbeda pada durasi setiap klep pada setiap pasang silinder, hal ini ditujukan untuk saling memberikan dorongan tenaga yang bisa saling mengisi kekosongan tenaga dari silinder yang pertama. Oleh karena itu mesin yang bersilinder lebih dua tentunya menghasilkan karakter yang berbeda dibanding motor dengan satu silinder dengan ukuran kapasitas CC yang sama.(danspeed) Cara Kerja Camshaft/CAM Pada Mesin 4 Langkah
Hal-hal yang perlu dikerjakan dalam sistem tune-up adalah, sebagai berikut:
1.Melepas saringan udara dan dudukannya (rumahnya)
a.Dengan menggunakan tang untuk membuka mur pengikat rumah saringan udara.
b.Dengan menggunakan kunci ring 12 mm – 13 mm untuk membuka baut pengikat kaki saringan udara.
c.Membersihkan elemen saringan udara dari debu dengan udara tekan.
Gambar 2.2 Elemen Saringan Udara
2.Melepas tutup distributor dan kabel tegangan tinggi dari busi
Gambar 2.3 Distributor
3.Mencari posisi rotor ke top satu
Dengan menggunakan kunci ring 19 mm, memutar puli yang bertanda cemakan.
4.Membuka tutup kepala silinder
a.Dengan menggunakan kunci ring 14 mm, membuka mur dan ring karet pengikat tutup kepala silinder kemudian melepas tutup kepala silinder.
b.Kalau sudah pas kencangkan baut pengikat kaki platina dan memastikan bahwa ukuran celah platina tidak berubah.
Gambar 2.4 Kepala Silinder
5.Menyetel celah katup dalam keadaan rotor top satu, yaitu:
a.Celah katup diukur yang bernomor 1, 2, 3 dan 5. Katup no. 1 dan 5 adalah katup buang (ekschause manifold), sedangkan katup no. 2 dan 3 adalah katup isap (intake manifoild)
b.Mempersiapkan kunci ring 12 mm, obeng minus 1 buah dan feeler 1 buah
c.Kunci ring di tangan kanan dan obeng minus di tangan kiri
d.Membuka skrup penyetelan celah katup
e.Mengukur celah katup buang dengan feeler 0,30 mm
f.Menyetel celah katup buang nomor 5 dengan obeng dan mengencangkannya
g.Dengan cara yang sama mengukur katup isap dengan feeler 0,20 mm
6.Menyetel celah katup dalam keadaan mesin top empat, yaitu:
a.Membuka busi no. 4 dan tutup dengan jari tangan
b.Memutar puli dan sejajarkan dengan dengan angka 00 dan cowakan yang ada pada keteng, dengan menggunakan kunci ring 18 mm – 19 mm.
c.Arah rotor berlawanan dengan arah rotor pada posisi top satu yaitu bertolak-belakang dengan busi no. 2.
d.Melakukan penyetelan pada celah katup isap caranya sama dengan menutup celah katup isap mesin dalam keadaan top satu, hanya katup isap yang di stel katup no. 4, 6, 7 dan 8, dengan feeler ukuran 0,20 mm,katup buang no. 4 dan 8 ukurannya 0,30 mm katup isap no. 6 dan 7 ukurannya 0,20 mm.
e.Memasukan kunci ring 12 mm ke mur pengikat baut penyetel celah katup dan mengendorkanya ke mur tersebut.
f.Memasukan feeler ukuran 0,20 mm ke salah satu katup no. 6.
Gambar 2.5 Menyetel celah katup
Gambar 2.6 Posisi katup
g.Mengatur baut penyetel katup sampai celah katup berukuran 0,20 mm dengan menggunakan obeng (-).
h.Menahan baut penyetel celah katup dengan obeng (-) dan mengencangkan mur dengan kunci ring 12 mm.
i.Memeriksa bahwa ukuran celah katup tidak berubah setelah celah katup di stel dan mur pengikat celah katup dikencangkan.
j.Melakukan hal yang sama pada celah katup isap dengan ukuran 0,20 mm.
k.Menyetel celah katup buang dengan fooler ukuran 0,30 mm.
7.Memasang kembali tutup kepala silinder.
8.Menyetel celah elektroda busi
a.Dengan menggunakan kunci busi 21 mm, membuka busi satu per satu.
Gambar 2.7 Menyetel celah elektroda busi
b.Memeriksa busi, masih bisa dipakai atau tidak, kalau rusak diganti.
c.Memasukan elektroda busi yang berukuran 0,70 mm ke celah elektroda busi dengan ukuran standar 0,60 mm – 0,90 mm.
d.Membersihkan elektroda busi dengan ampelas atau sikat kawat
e.Setelah bersih, menyetel ukuran celah dan mengepasangkan kembali busi tersebut
9.Melepas distributor
a.Tentukan posisi rotor dengan menggunakan kunci stel 12 mm, membuka baut pengikat distributor.
b.Dengan menggunakan kunci pas 8 mm – 9mm membuka mur pengikat kabel arus yang menghubungkan koil terminal positif ke kondensor pada distributor.
c.Mengangkat distributor.
Gambar 2.8 Bagian dari Distributor
10.Menyetel celah platina
a.Ukuran toleransi celah platina antara 0,30 mm – 0,50 mm, ukuran yang digukakan 0,40 mm.
b.Dengan menggunakan obeng (+) memutar pengikat kaki platina dan kendorkan.
c.Mengepaskan hubungan As distributor dengan kaki platina
d.Membuka skrup pengikat kaki platina
e.Memasukan feeler ukuran 0,40 mm ke celah platina tersebut dengan menggeser ukuran celah platina
f.Setelah celah platina di ukur dengan baik, mengencangkan skrup pengikat kaki platina
Gambar 2.9 Platina
11.Memasang kembali distributor
a.pada tempatnya dan arah rotor menunjukkanke arah semula yaitu arah rotor ketika distributor akan di lepas.
b.Memastikan bahwa distributor masuk benar-benar penuh tidak ada celah antara rumah dengan dudukannya.
c.Memasang penahan distributor, kemudian memasang kabel arus dari koil terminal positif ke kondensor pada distributur.
12.Menyetel tegangan tali kipas
Periksa tali kipas kemungkinan retak atau berubah bentuk.
Gambar 2.10 Tali Kipas
13.Memeriksa oli untuk pelumas mesin harus kental.
14.Memeriksa arus
a.Kabel tegangan tinggi dari koil diarahkan ke massa atau ke body mesin kemudian di starter dan apipun keluar dari koil.
b.Memasang tutup distributor dan memasang kabel tegangan tinggi ke busi sesuai tertib pengapian.
15.Semua komponen yang dilepas telah selesai diperbaiki dan di pasang kembali, mesin mulai dihidupkan.
16.Mencari titik pengapian
Gambar 2.11 Mencari Titik Pengapian
a.Titik pengapian untuk mesin tipe 5 K adalah 50 sedangkan untuk 4 K adalah 8 0.
b.Memasang kabel warna merah dari timing light ke terminal accu (+) dan kabel hitam ke accu (-)
c.Memasang kabel tegangan tinggi dari timing light ke kabel busi no. 1 untuk top 1.
d.Menekan platuk timing light dan mengarahkan timing light ke puli, memastikan bahwa tanda cowakan sejajar dengan angka 80.
e.Menggeser distributor untuk mendapatkan titik pengapian yang tepat kemudian mengikatnya dengan baut.
Gambar 2.12 Mencari Sudut Dwell
17.Mencari sudut dwell dengan menggunakan dwell tester, standarsudut dwell 520 + 60. Dengan memasang kabel warna hitam ke massa dan kabel warna merah ke koil negatif atau ke kondensor.
Hal-hal yang perlu dikerjakan dalam sistem tune-up adalah, sebagai berikut: 1. Melepas saringan udara dan dudukannya (rumahnya) a. Dengan menggunakan tang untuk membuka mur pengikat rumah saringan udara. b. Dengan menggunakan kunci ring 12 mm – 13 mm untuk membuka baut pengikat kaki saringan udara. c. Membersihkan elemen saringan udara dari debu dengan udara tekan.
Gambar 2.2 Elemen Saringan Udara
2. Melepas tutup distributor dan kabel tegangan tinggi dari busi
Gambar 2.3 Distributor 3. Mencari posisi rotor ke top satu Dengan menggunakan kunci ring 19 mm, memutar puli yang bertanda cemakan. 4. Membuka tutup kepala silinder a. Dengan menggunakan kunci ring 14 mm, membuka mur dan ring karet pengikat tutup kepala silinder kemudian melepas tutup kepala silinder. b. Kalau sudah pas kencangkan baut pengikat kaki platina dan memastikan bahwa ukuran celah platina tidak berubah.
Gambar 2.4 Kepala Silinder 5. Menyetel celah katup dalam keadaan rotor top satu, yaitu: a. Celah katup diukur yang bernomor 1, 2, 3 dan 5. Katup no. 1 dan 5 adalah katup buang (ekschause manifold), sedangkan katup no. 2 dan 3 adalah katup isap (intake manifoild) b. Mempersiapkan kunci ring 12 mm, obeng minus 1 buah dan feeler 1 buah c. Kunci ring di tangan kanan dan obeng minus di tangan kiri d. Membuka skrup penyetelan celah katup e. Mengukur celah katup buang dengan feeler 0,30 mm f. Menyetel celah katup buang nomor 5 dengan obeng dan mengencangkannya g. Dengan cara yang sama mengukur katup isap dengan feeler 0,20 mm 6. Menyetel celah katup dalam keadaan mesin top empat, yaitu: a. Membuka busi no. 4 dan tutup dengan jari tangan b. Memutar puli dan sejajarkan dengan dengan angka 00 dan cowakan yang ada pada keteng, dengan menggunakan kunci ring 18 mm – 19 mm. c. Arah rotor berlawanan dengan arah rotor pada posisi top satu yaitu bertolak-belakang dengan busi no. 2. d. Melakukan penyetelan pada celah katup isap caranya sama dengan menutup celah katup isap mesin dalam keadaan top satu, hanya katup isap yang di stel katup no. 4, 6, 7 dan 8, dengan feeler ukuran 0,20 mm, katup buang no. 4 dan 8 ukurannya 0,30 mm katup isap no. 6 dan 7 ukurannya 0,20 mm. e. Memasukan kunci ring 12 mm ke mur pengikat baut penyetel celah katup dan mengendorkanya ke mur tersebut. f. Memasukan feeler ukuran 0,20 mm ke salah satu katup no. 6.
Gambar 2.5 Menyetel celah katup
Gambar 2.6 Posisi katup
g. Mengatur baut penyetel katup sampai celah katup berukuran 0,20 mm dengan menggunakan obeng (-). h. Menahan baut penyetel celah katup dengan obeng (-) dan mengencangkan mur dengan kunci ring 12 mm. i. Memeriksa bahwa ukuran celah katup tidak berubah setelah celah katup di stel dan mur pengikat celah katup dikencangkan. j. Melakukan hal yang sama pada celah katup isap dengan ukuran 0,20 mm. k. Menyetel celah katup buang dengan fooler ukuran 0,30 mm. 7. Memasang kembali tutup kepala silinder. 8. Menyetel celah elektroda busi a. Dengan menggunakan kunci busi 21 mm, membuka busi satu per satu.
Gambar 2.7 Menyetel celah elektroda busi b. Memeriksa busi, masih bisa dipakai atau tidak, kalau rusak diganti. c. Memasukan elektroda busi yang berukuran 0,70 mm ke celah elektroda busi dengan ukuran standar 0,60 mm – 0,90 mm. d. Membersihkan elektroda busi dengan ampelas atau sikat kawat e. Setelah bersih, menyetel ukuran celah dan mengepasangkan kembali busi tersebut 9. Melepas distributor a. Tentukan posisi rotor dengan menggunakan kunci stel 12 mm, membuka baut pengikat distributor. b. Dengan menggunakan kunci pas 8 mm – 9mm membuka mur pengikat kabel arus yang menghubungkan koil terminal positif ke kondensor pada distributor. c. Mengangkat distributor.
Gambar 2.8 Bagian dari Distributor 10. Menyetel celah platina a. Ukuran toleransi celah platina antara 0,30 mm – 0,50 mm, ukuran yang digukakan 0,40 mm. b. Dengan menggunakan obeng (+) memutar pengikat kaki platina dan kendorkan. c. Mengepaskan hubungan As distributor dengan kaki platina d. Membuka skrup pengikat kaki platina e. Memasukan feeler ukuran 0,40 mm ke celah platina tersebut dengan menggeser ukuran celah platina f. Setelah celah platina di ukur dengan baik, mengencangkan skrup pengikat kaki platina
Gambar 2.9 Platina 11. Memasang kembali distributor a. pada tempatnya dan arah rotor menunjukkanke arah semula yaitu arah rotor ketika distributor akan di lepas. b. Memastikan bahwa distributor masuk benar-benar penuh tidak ada celah antara rumah dengan dudukannya. c. Memasang penahan distributor, kemudian memasang kabel arus dari koil terminal positif ke kondensor pada distributur. 12. Menyetel tegangan tali kipas Periksa tali kipas kemungkinan retak atau berubah bentuk.
Gambar 2.10 Tali Kipas 13. Memeriksa oli untuk pelumas mesin harus kental. 14. Memeriksa arus a. Kabel tegangan tinggi dari koil diarahkan ke massa atau ke body mesin kemudian di starter dan apipun keluar dari koil. b. Memasang tutup distributor dan memasang kabel tegangan tinggi ke busi sesuai tertib pengapian. 15. Semua komponen yang dilepas telah selesai diperbaiki dan di pasang kembali, mesin mulai dihidupkan. 16. Mencari titik pengapian
Gambar 2.11 Mencari Titik Pengapian a. Titik pengapian untuk mesin tipe 5 K adalah 50 sedangkan untuk 4 K adalah 8 0. b. Memasang kabel warna merah dari timing light ke terminal accu (+) dan kabel hitam ke accu (-) c. Memasang kabel tegangan tinggi dari timing light ke kabel busi no. 1 untuk top 1. d. Menekan platuk timing light dan mengarahkan timing light ke puli, memastikan bahwa tanda cowakan sejajar dengan angka 80. e. Menggeser distributor untuk mendapatkan titik pengapian yang tepat kemudian mengikatnya dengan baut.
Gambar 2.12 Mencari Sudut Dwell 17. Mencari sudut dwell dengan menggunakan dwell tester, standar sudut dwell 520 + 60. Dengan memasang kabel warna hitam ke massa dan kabel warna merah ke koil negatif atau ke kondensor.
Sasaran Pengguna jasa perawatan dan perbaikan sistem penerangan, dinamo stater dan tune up, ditujukan kepada pemilik atau pengguna kendaraan mesin bensin 4 langkah 4 silinder baik perorangan maupun perusahaan.
Kekasihku… Lihatlah… Tlah kau hapus luka dihatiku Oh Sayangku… Rasakanlah ini anugrah atas nama cinta
Katakan Pada dunia… Kamu dan aku bahagia Semoga cinta kan terjaga selamanya Terima kasih Tuhan… Kau beri aku seorang yang mendampingiku Didalam suka dan duka
Kekasihku… Lihatlah… Tlah kau hapus luka dihatiku Oh Sayangku… Rasakanlah ini anugrah atas nama cinta
Segala yang terjadi dalam hiduku bukanlah kebetulan,
tapi semua senang dan sedihku sudah digariskan untukku.
Syukur adalah obat untuk segalanya dan jalan segala penyelesaian
...dalam tiap langkahku
...dalam tiap hembusan nafasku
...dalam tiap detakkan jantungku
hanya ada ...ALLOH...